TINDAKAN SOSIAL
1.
Pengertian
Tindakan adalah perbuatan
seseorang baik untuk dirinya maupun bukan untuk dirinya dengan tujuan tertentu. Dalam
hal ini tindakan merupakan perilaku manusia yang mempunyai makna subyektif bagi
pelakunya.
Misalnya, seorang gadis yang sedang menyanyi di kamar
ganti sekedar mengusik kesepian dirinya sendiri, atau seorang siswa yang sedang
mengkhayalkan impian masa depannya secara diam-diam.
Tidak semua tindakan manusia digolongkan sebagai tindakan sosial. Tindakan
seseorang baru dianggap tindakan sosial manakala yang dilakukannya berkaitan
dengan orang lain. Dengan demikian, tindakan sosial diartikan sebagai suatu perbuatan atau aktivitas
seseorang yang ditujukan pada atau dipengaruhi oleh orang lain.
Misalnya, seorang pemuda memberikan ciuman
kepada sahabatnya yang berulang tahun. Tindakan memberikan ciuman
tersebut merupakan tindakan sosial. Contoh lain, tindakan seorang guru menegur
siswanya yang tidak berseragam, agar berseragam. Tindakan menergur siswa yang
dilakukan guru tersebut merupakan tindakan sosial.
Max
Weber (1864-1920) berpendapat bahwa tindakan sosial merupakan
tindakan seorang individu yang dapat mempengaruhi individu-individu lainnya
dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, tindakan sosial merupakan
dasar dalam proses terjadinya interaksi sosial.
2.
Macam-macam
tindakan sosial
Tindakan
sosial dapat dibedakan ke dalam empat macam, sebagai berikut:
(1) Tindakan subyektif yaitu tindakan
yang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan dan orang lain tidak mengerti
sedangkan yang dapat memahami adalah orang yang melakukan.
Contoh:Berdoa dengan khusyuk memohon kepada Tuhan agar sukses ujian.
(2) Tindakan obyektif yaitu tindakan yang
dilakukan oleh seseorang dan dapat dipahami oleh orang lain.
Contoh:Makan bersama dalam suatu
pesta Ulang Tahundi suatu tempat.
3. Tipe-tipe tindakan sosial
Tipe-tipe tindakan sosial dapat dibedakan sebagai berikut:
(1) Tindakan Rasional Instrumental, adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan
memperhitungkan kesesuaian antara cara dan tujuan yang akan dicapai.
Tindakan sosial ini dilaksanakan dengan pertimbangan dan
pilihan secara sadar.
Contoh: a. Tindakan
siswa memilih jurusan di perguruan tinggi.
b.Tindakan ibu berbelanja barang
di pasar.
(2) Tindakan Rasional berorientasi Nilai, adalah tindakan yang bersifat rasional dan
memperhitungkan manfaatnya.
Tujuan yang hendaknya dicapai tidak terlalu diperhitungkan,
yang dipersoalkan adalah cara/proses untuk mencapai tujuan.
Contoh: pelaksanaan ibadah suatu
agama. Orang umumnya tidak meragukan arti pentingnya tindakan beragama, namun
yang lebih diperhatikan adalah cara melaksanakan tindakan beragama, seperti
berdoa bersama, tidak mendendam kepada orang lain, bersedekah kepada fakir
miskin.
(3) Tindakan Tradisional, yaitu tindakan sosial yang tidak mengutamakan pertimbangan rasional
dimana tujuan dan prosedur tidak diperhitungkan oleh si pelaku, yang
diperhitungkan/dipertimbangkan adalah tradisi kebiasaan, adat istiadat sosial
yang sudah baku.
Contoh: Hormat kepada
orang tua dengan mencium tangannya.
(4) Tindakan Afektif, yaitu
tindakan yang sebagian besar dikuasai oleh emosi/perasaan. Tindakan ini
tergolong sebagai tindakan yang tidak mengutamakan pertimbangan rasional.
Contoh: Menangis karena sedih
ditinggal pergi kekasihnya.
Ke-empat tindakan sosial tersebut
memiliki kesamaan, yaitu dilakukan dengan memperhitungkan keberadaan orang
lain, serta dilakukan secara sadar oleh aktor. Namun ke-empat tindakan sosial itu juga memiliki
perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan tindakan-tindakansocial di atas, sebagai berikut.
|
Tipe Tindakan Sosial
|
Tujuan
|
Kesesuaian Cara dan Tujuan
|
|
Tindakan rasional
instrumental
|
1
|
1
|
|
Tindakan rasional
berorientasi nilai
|
2
|
1
|
|
Tindakan tradisional
|
2
|
2
|
|
Tindakan afektif
|
2
|
2
|
Keterangan:
1 = keputusan diambil oleh
aktor (pelaku) sebagai hasil perhitungan.
2 = keputusan diambil tidak
atas dasar hasil perhitungan aktor.
Interaksi Sosial
1.
Pengertian.
Interaksi sosial adalah:
(1) Hubungan timbal balik antara
individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok atau kelompok
dengan individu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga tercapai
tujuannya.
(2) Proses saling mempengaruhi pikiran
maupun tindakan orang-orang yang berhubungan, baik dalam bentuk kerjasama,
persaingan, maupun pertikaian.
(3) Proses pengaruh timbal balik melalui
berbicara atau tukar menukar tanda yang dapat menimbulkan perubahan perasaan
kesadaran, pikiran.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa individu atau kelompok
bekerjasama atau berkonflik, melakukan interaksi baik formal maupun tidak
formal, langsung atau tidak langsung. Contoh, debat antara para calon wali kota
dalam memperebutkan kursi wali kota (hubungan konflik), kerjasama antara
anggota tim basket dalam sebuah pertandingan (hubungan kerjasama), diskusi
antara kepala sekolah dengan para guru dalam rapat pleno guru (hubungan
formal), tawar menawar antara penjual dengan pembeli di pasar (hubungan
informal).
Menurut Charles P.Loomis, mengatakan bahwa sebuah hubungan dapat
disebut interaksi sosial jika memenuhi ciri-ciri berikut :
1) Jumlah
pelaku dua orang atau lebih.
2) Adanya
komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol atau lambang.
3) Dilaksanakan
dengan pola sistem tertentu dalam suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu,
masa kini, dan masa yang akan datang.
4) Adanya
tujuan yang jelas yang hendak dicapai sebagai hasil dari interaksi tersebut.
2.
Jenis-jenis
Interaksi Sosial
Jenis-jenis
interaksi sosial, meliputi:
(1) Interaksi antara individu dengan
individu.
Individu yang satu memberikan pengaruh kepada individu
lainnya, sebaliknya individu yang terkena pengaruh memberikan
reaksi/respons.Wujud interaksinya bisa dalam bentuk berjabat tangan, saling
menegur.
(2) Interaksi antara individu dengan
kelompok.
Seorang individu berinteraksi sosial dengan kelompok.
Contoh: seorang guru mengajar di
kelas.
(3) Interaksi antara kelompok dengan
kelompok.
Interaksi jenis ini terjadi pada
kelompok sebagai satu kesatuan, bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok
yang bersangkutan.
Contoh: ~Pertandingan sepakbola antara Persema melawan Persija.
~KTT Non Blok.
Adapun pola-pola yang melandasi interaksi
sosial harus memenuhi beberapa syarat, seperti:
(1)
Tujuannya
jelas;
(2)
Kebutuhan
yang jelas dan bermanfaat;
(3)
Berdayaguna
dan berhasil guna;
(4)
Sesuai
dengan kaidah-kaidah sosial yang berlaku.
Apa hubungan tindakan sosial dengan interaksi sosial?
Hubungan
antara tindakan sosial dengan interaksi sosial ialah bahwa suatu tindakan belum
tentu menghasilkan interaksi sosial.
Misalnya tindakan seorang
yang sedang menyanyi di kamar mandi sekedar menghibur dirinya sendiri.
Tetapi jika terjadi
interaksi sosial berarti pasti sudah ada tindakan sosial. Disini berarti
interaksi sosial terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara
individu-individu yang berupa tindakan (aksi) dan tanggapan (reaksi) antara
kedua pihak yang berinteraksi.Tanpa tindakan, hubungan timbal balik tidak
mungkin terjadi.Jadi, disini tindakan sosial merupakan syarat yang harus ada
bagi terwujudnya interaksi sosial.
Dasar-dasar
proses terjadinya interaksi sosial untuk menciptakan keteraturan harus
berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
1) Kebutuhan yang nyata, artinya
interaksi dijadikan kebutuhan lahir dan batin manusia.
2) Efisiensi, artinya interaksi
merupakan alat mempererat pergaulan manusia.
3) Efektifitas, artinya interaksi
dimaksudkan untuk mencapai tujuan hidup sesuai dengan nilai sosial (nilai
adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak berarti).
4) Penyesuaian dengan kaidah-kaidah yang
berlaku, artinya melalui interaksi manusia dapat mengenal norma-norma sosial
yang menjadi patokan tingkahlaku.
5) Penyesuaian diri pada kebenaran,
artinya interaksi mendekatkan manusia pada nilai-nilai yang dialami dan
dibenarkan oleh masyarakat.
6) Tidak memaksakan seseorang baik
secara fisik maupun mental, artinya dalam berinteraksi seseorang tidak boleh
memaksakan keinginannya terhadap orang lain.
Kontak Sosial
Kontak sosial adalah aksi individu
atau kelompok dalam bentuk pesan atau aksi yang memiliki makna dan tujuan serta
dapat dimengerti oleh pemberi maupun penerima, dan penerima akan membalas aksi
dengan reaksi.
Berikut
ini macam-macam kontak sosial.
Ø Berdasarkan caranya, kontak sosial
dibedakan:
a. Kontak langsung, ada kehadiran para
pihak secara fisik.
Contoh: berbicara, tersenyum.
b. Kontak tidak langsung, terjadi
melalui media atau perantara tertentu.
Contoh: - kontak melalui pesawat
telepon.
-kontak pilihan lagu pendengar melalui
radio
Ø Berdasarkan tingkat hubungannya, kontak
sosial dibedakan:
a. Kontak primer, pihak pertama
menyampaikan pesannya kepada pihak kedua secara langsung tanpa perantara.
Contoh: - saat wawancara;
- saat berjabat tangan.
b. Kontak sekunder, pihak pertama
menyampaikan pesannya kepada pihak kedua melalui:
a) Perantaraan pihak ketiga, atau;
b) Mempergunakan alat bantu.
Contoh: Tuti bercakap-cakap dengan
temannya melalui telepon.
Ø Berdasarkan bentuknya, kontak sosial
dibedakan:
a. Kontak individu dengan individu.
Contoh: anak kecil mencontoh tingkah laku ibu atau bapaknya.
b. Kontak antara individu dengan
kelompok.
Contoh: guru tari melatih
murid-muridnya sehingga terjadi persamaan gerak diantara mereka
c. Kontak antara kelompok dengan
kelompok.
Contoh: cerdas cermat antar sekolah setingkat SD.
Ø Berdasarkan sifatnya, kontak sosial
dibedakan:
a. Kontak positif, yaitu kontak yang
mengarah pada suatu kerjasama.
Contoh: dua remaja yang berlainan
jenis saling memandang dan saling senyum, kemudian berkenalan.
b. Kontak negatif, yaitu kontak yang
mengarah pada suatu pertentangan, bahkan berakibat memutuskan interaksi.
Contoh: perang Iran-Irak.
Komunikasi
Komunikasi adalah tindakan menyampaikan pesan, berita,
pengetahuan, buah pikiran atau nilai-nilai untuk menggugah orang lain
memberikan tafsiran dan mewujudkannya dalam tindakan.
Ada dua istilah dalam proses komunikasi. Orang yang
menyampaikan komunikasi disebut komunikator dan orang yang menerima komunikasi
disebut komunikan.
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Kelima unsur tersebut
adalah sebagai berikut :
(1)
Komunikator,
yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.
(2)
Komunikan,
yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
(3)
Pesan,
yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi,
instruksi, dan perasaan.
(4)
Media,
yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan,
tulisan, gambar, dan film.
(5)
Efek
(feed-back), perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapat
pesan dari komunikator.
Ada tiga tahap penting dalam proses
komunikasi. Ketiga tahap tersebut sebagai berikut :
(1)
Encoding,
berupa gagasan atau program yang akan dikomunikasikan, diwujudkan dalam kalimat
atau gambar. Komunikator harus memilih kata, istilah, kalimat atau gambar yang
tepat yang mudah dipahami oleh komunikan.
(2)
Penyampaian,
berupa istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat atau
gambar yang akan disampaikan. Penyampaian dapat berupa tulisan, lisan, atau
keduanya.
(3)
Decoding,
tahap proses pencernaan dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut
pengalaman yang dimiliki.
Dilihat dari sifatnya ada 2 macam komunikasi, yakni:
(1)
Komunikasi
positif, apabila pihak-pihak yang berkomunikasi dapat saling memahami atau
mengerti pesan yang disampaikan.
(2)
Komunikasi
negatif, apabila pesan yang disampaikan tidak bisa dipahami oleh penerima pesan
(komunikan).
Sedangkan bila dilihat dari sistemnya,
komunikasi dapat dibedakan menjadi:
(1)
Komunikasi
langsung, contoh: ceramah, diskusi.
(2)
Komunikasi
tidak langsung, contoh: surat menyurat, radio, telepon.
(3)
Komunikasi
melalui perantara (seseorang), contoh: si A minta tolong pada si B, supaya
dapat diperkenalkan dengan si C.
Kontak
sosial lebih menekankan seseorang atau kelompok yang berinteraksi.Sedang
komunikasi lebih menekankan pada bagaimana pesan itu diproses.
Di dalam interaksi sosial terdapat macam tingkat hubungan
yaitu:
(1)
Tingkat
hubungan interaksi yang dangkal, yaitu jika hubungan berlangsung pada
waktu-waktu tertentu saja dan tidak bersifat kesinambungan.
Contoh: hubungan antara
pedagang dan pembeli di pasar.
(2)
Tingkat
hubungan interaksi yang dalam, yaitu jika interaksi itu berjalan secara terus
menerus dalam waktu tidak terbatas dan pihak yang berhubungan itu saling
mempengaruhi serta mempunyai tujuan tertentu, sehingga hubungan antar
individu/kelompok terus berkesinambungan.
Contoh:
·
Hubungan
anak dengan orang tua.
·
Hubungan
siswa dengan guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar